Sebuah cerita lisan dari warga.Pada suatu ketika di sebuah kampung
di desa Purwawinangun kabupaten Cirebon, (jalan di daerah pesawahan)
yang sepi, terjadilah pembegalan (penjegalan) menjelang pagi hari yang
masih gelap. Seorang pengendara motor dijegal oleh perampok (bajing
luncat -istilahnya, atau di daerah dikenal dengan sebutan begal). Dengan
target merampas sepeda motor dari si pengendara.
Dengan menggunakan tali yang dibentang di jalan, sang perampok
menjegal si pengendara motor, alhasil si pengendara dan motornya
terjatuh. Lalu, singkat cerita terjadilah perkelahian. Ternyata bukan
hanya si perampok yang membawa golok, si pengendara yang memang sudah
wanti-wanti takut ada yang merampok diperjalanannya juga membawa golok.
Terjadilah perkelahian sengit di tempat sepi itu. Masing-masing saling
bacok dengan goloknya.
Apa yang kemudian terjadi? Percaya atau tidak (ini dikisahkan oleh
warga setempat), keduanya tidak mempan terhadap tajamnya golok itu alias
kebal. Perkelahian bahkan berlangsung lama hingga hari benar-benar
beranjak siang. Hingga akhirnya diketahui oleh penduduk.Alhasil, sang
maling pun dikeroyok oleh penduduk. Karena (katanya) si maling kebal,
pengeroyokan pun jadi sangat alot hingga akhirnya ada penduduk yang
memang kebetulan petani yang saat itu hendak pergi ke sawah, membawa
cangkul dan menuntaskan riwayat si perampok itu dengan cangkulnya.
Sebuah cangkul yang tidak terlalu tajam, tidak setajam golok.
Apa yang kemudian disimpulkan dari cerita diatas, dan berdasarkan
apa yang dikatakan penduduk dan orang-orang tua yang saya dengar
ceritanya?!
“Sekebal-kebalnya orang (yang memilikiilmu kebal), dia memang bisa
saja kebal terhadap senjata tajam walaupun senjata(golok, pedang dll)
itu dikeramatkan, dimandikan dengan kembang dll. Tapi, kekebalannya
tidak akan berarti jika benda tajam itu terlebih dahulu ditancapkan ke
tanah.” – Maksudnya? Seperti kisah diatas, cangkul petani yang sering
digunakan untuk mencangkul tanahlah yang bisa melukai si perampok.
Ada keyakinan bahwa manusia itu berasal dari saripati tanah, dan
jasad manusia pun ketika mati akan dikubur dan melebur dengan tanah.
Jadi, tanah (bumi) adalah unsur yang sangat penting,seperti halnya udara
dan air.
Cerita ini saya dengar dari beberapa orang penduduk sekitar dan
berdasarkan apa yang dikatakan orang-orang tua di kampung. Mengenai
kebenarannya, tentunya kembali kepada keyakinan yang membaca tulisan
ini! Tapi, ya inilah budaya atau hal yang memang tidak asing lagi
adanya. Dua hal yang patut kita yakini : Pertama, bahwa tidak ada yang
sempurna dari manusia, setiap hal yang dimiliki manusia pasti ada
kekurangannya. Kedua, tidak jauh dari kekuatan maka disitulah terletak
kelemahan.
Cokro Atmajadirdja
Rabu, 13 Maret 2013
Sejarah Prabu Kian Santang
Kian Santang
adalah tokoh tasawuf dari tanah pasundan yang ceritanya melegenda
khususnya di hati masarakat pasundan dan kaum tasawuf ditanah air pada
umumnya. Tokoh kian-santang ini pertama kali berhembus dan dikisahkan
oleh raden CAKRABUANA atau pangeran walangsungsang ketika menyebarkan
islam di tanah cirebon dan pasundan. Pangeran cakrabuana adalah anak
dari prabu sili-wangi atau jaya dewata raja pajajaran, yang dilahirkan
dari permaisuriketiga yang bernama nyi subang larang, subang-larang
sendiri murid dari mubaliqkondang yaitu syeh maulana-hasanudin atau
terkenal dengan syeh kuro krawang.
Mulanya yaitu, ketika raden walangsungsang memilih untuk pergi meninggalkan galuh pakuan atau pajajaran, yang di sibebabkan oleh keberbedaan haluan dengan keyakinan ayahnya yang memeluk agama “shangyang”, pada waktu itu. diriwayatkan beliau berkelana mensyi’arkan islam bersama adiknya yaitu rara santang (ibu dari syarif hidayatullah atau “sunan gunung jati”) dengan membuka perkampungan di pesisir utara yang menjadi cikal-bakal kerajaan caruban atau kasunanan cirebon yang sekarang adalah “kota madya cirebon”.
Legenda kian-santang sendiri diambil darisebuah kisah nyata, dari tanah pasundan tempo dulu yang ceritanya pada waktu itutersimpan rapi berbentuk buku di perpustakaan kerajaan pajajaran. Karenapajajaran adalah hasil penyatuan dua kerajaan antara galuh dan kerajaan sunda pura yang dimana kerajaan galuh dan sundapura adalah dua kerajaan pecahan dari taruma negara, yang di masa prabu PURNA-WARMAN yaitu raja ketiga dari kerajaan taruma negara yang di pecah menjadi dua yaitu tarumanegarayang berganti sundapura dan ibukota lama menjadi galuh pakuan. Dan jaya dewata menyatukan kembali dua pecahan kerajaan taruma negara menjadi pajajaran.
Di mana di kisahkan pada waktu itu yaitu abad ke 4m atau tahun 450 pernah terdapat putra mahkota yang sakti mandraguna bernama GAGAK LUMAYUNG yang dalam ceritanya “di tataran suda dan sekitarnya ,tak ada yang mampu mengalahkan ilmu kesaktiannya. hingga suatu saat datang pasukan dari dinasti TANG yang hendak menaklukkan kerajaantarumanegara. namun berkat gagak lumayung, pasukan TANG dapat di halau dan tunggang-langgang meninggalkan taruma negara.
Semenjak itu raden gagak lumayung di beri sebutan ”KI AN SAN TANG” atau ”penakluk pasukan tang” Di ceritakan sang kiansantang ini karena saking saktinya hingga dia rindu kepingin melihat darahnya sendiri. Hingga sampailah di suatu ketika sa’at dia mendapat wangsit di tapabratanya bahwah di tanah arab terdapat orang sakti mandraguna. Konon: dengan ajian napak sancangnya raden kian santang mampu mengarungi lautan dengan berkuda saja. “Di mana dalam ceritanya ketika sampai di pesisir beliau bertemu seorang kakek ,dan padanya dia minta untuk di tunjukan di mana orang sakti yang kian santang maksud tersebut”. Dan dengan senang hati si-kakek tersebutmenyanggupinya dan sementara dia mengajak beliau “kiansantang” untuk mampir dulu ke rumahnya.
Al-kisah setelah sampai di rumahnya tongkat dari sang kakek tersebut tertinggal di pesisir dan minta kian santang untuk mengambilkanya ,konon dikisahkan si-kian santang tak mampu mencabutnya sampai tanganya berdarah-darah ,disitulah kian santang baru sadar kalau kakek itu adalah orang yang di carinya. Dan akhirnya dengan membaca kalimah syahadat yang di ajarkan sang kakek tadi “yang akhirnya menjadi guru spiritualnya” tongkat tersebut dapat di cabut .
Cerita tersebut membumi sekali sampai saat sekarang. Dan yang aneh, kebanyakan orang menduga kalau kian santang itu adalah raden walang sungsang. Padahal banyak sekali cerita yang sepadan dengan kisah raden walang sungsang tersebut. Yang sesungguhnya dialah yang mengisahkan justru dialah yang di kira pelaku (raden walang sungsang atau pangeran cakrabuana) sebagai tokoh yang diceritakan itu. Tujuannya adalah hanya sebagai media dakwah dan penyebaran islam di bumi cirbon dan sekitarnya. Sehingga sampai sekarang banyak kalangan yang menyangka raden walangsungsang adalah kian santang bahkan ada yang menafikan kian santangadalah adik cakrabuana dan kakak dari rara santang.
Raden walangsungsang mengambil ceritaini dari perpustakaan kerajaan pajajaran dengan pertimbangan karena kisah itu mirip dengan kisahnya, Yang di mana kiansantang setelah pulang dari arab dia ingin meng-islamkan ayahnya prabu purnawarman namun di tolaknya dan kian santang memilih meninggalkan istana dan tahtanya di berikan adiknya yaitu darmayawarman. Begitu pula radenwalang sungsang yang pernah merantau ke arab dan meningkahkan adiknya rara santang yang di ambil istri oleh putra kerajaan mesir waktu itu dan pernikahan berlangsum di mesir yang dari perkawinan inilah nanti akan lahirlah raden syarif hidayatullah atau sunan gunung jati.
Keinginan Walangsungsang untuk meng-islamkan prabu siliwangi ditolak mentah-mentah dan ayahnya tidak ingin bertarung dengan anaknya maka dia memilih mensucikan diri atau bertapa, konon beliau menjelma macan putih. Pengambilan kisah penokohan dalam sebuah ceritra seperti ini sebenarnya pernah pula terjadi pada era sebelum raden walang sungsang yang tepatnya dilakukan oleh raja jaya-baya (raja islam pertama di tanah jawa) dari kerajaan panjalu atau kediri, di mana suatu masih di pegang raja airlangga kerajaan tersebut bernama kerajaan KAHURIPAN dan karena kedua anaknya semua meminta tahta maka kahuripan di bagi dua yaitu panjalu dan jenggala. Sepanjang perkembangan dua kerajaan tersebut selalu bermusuhan dan pada masa kerajaan panjalu dirajai oleh jaya baya, panjalu mampu menaklukkan jenggala dan di satukan lagi antara jenggala dan panjalu.
Pada waktu panjalu menaklukkan jenggala rajanya jaya-baya meminta empu sedha dan empu panuluh untuk mengutip naskah dari india yang judulnyamaha barata. Namun diverifikasi dengan gaya jawa, sebagai perlambang atas kemenangan perang saudara panjalu melawan jenggala. Yang akhirnya kitab tersebut di beri judul barata-yuda. Dan dalam kisah klasik jawa ini banyak kalangan masarakat yang mengira bahwa jaya baya adalah kelanjutan dari trah barata yaitu cicit dari parikesit putra abimanyu.
Juga kisah lainnya yang serupa pernah pula hadir kemasarakat yang tujuannya waktu itu sebagai media dakwah untuk melindungi rongrongan ajaran syariat terhadap kaum sufi. Maka ketika bergerakmenyebarkan islam WALI SONGO menurtubanyak kalangan membuat cerita al-halaq versi indonesia yaitu syekh siti jenar. Yang menurut Doktor Simon dari UGM Yogja berdasarkan temuannya karya-karya besar berupa naskah suluk dari sunan kali jaga dan lain sebagainya. Dapat di pastikan tokoh siti jenar adalah imajener hanya untuk media dakwah dan melindungi islam agar tetap pada ajaran ahlusunah wa jamaah.
Dan sampai saat ini pendapat itu masih simpang siur dan menjadi perdebatan dan polemik panjang oleh para ahli sejarah di tanah air.
Mulanya yaitu, ketika raden walangsungsang memilih untuk pergi meninggalkan galuh pakuan atau pajajaran, yang di sibebabkan oleh keberbedaan haluan dengan keyakinan ayahnya yang memeluk agama “shangyang”, pada waktu itu. diriwayatkan beliau berkelana mensyi’arkan islam bersama adiknya yaitu rara santang (ibu dari syarif hidayatullah atau “sunan gunung jati”) dengan membuka perkampungan di pesisir utara yang menjadi cikal-bakal kerajaan caruban atau kasunanan cirebon yang sekarang adalah “kota madya cirebon”.
Legenda kian-santang sendiri diambil darisebuah kisah nyata, dari tanah pasundan tempo dulu yang ceritanya pada waktu itutersimpan rapi berbentuk buku di perpustakaan kerajaan pajajaran. Karenapajajaran adalah hasil penyatuan dua kerajaan antara galuh dan kerajaan sunda pura yang dimana kerajaan galuh dan sundapura adalah dua kerajaan pecahan dari taruma negara, yang di masa prabu PURNA-WARMAN yaitu raja ketiga dari kerajaan taruma negara yang di pecah menjadi dua yaitu tarumanegarayang berganti sundapura dan ibukota lama menjadi galuh pakuan. Dan jaya dewata menyatukan kembali dua pecahan kerajaan taruma negara menjadi pajajaran.
Di mana di kisahkan pada waktu itu yaitu abad ke 4m atau tahun 450 pernah terdapat putra mahkota yang sakti mandraguna bernama GAGAK LUMAYUNG yang dalam ceritanya “di tataran suda dan sekitarnya ,tak ada yang mampu mengalahkan ilmu kesaktiannya. hingga suatu saat datang pasukan dari dinasti TANG yang hendak menaklukkan kerajaantarumanegara. namun berkat gagak lumayung, pasukan TANG dapat di halau dan tunggang-langgang meninggalkan taruma negara.
Semenjak itu raden gagak lumayung di beri sebutan ”KI AN SAN TANG” atau ”penakluk pasukan tang” Di ceritakan sang kiansantang ini karena saking saktinya hingga dia rindu kepingin melihat darahnya sendiri. Hingga sampailah di suatu ketika sa’at dia mendapat wangsit di tapabratanya bahwah di tanah arab terdapat orang sakti mandraguna. Konon: dengan ajian napak sancangnya raden kian santang mampu mengarungi lautan dengan berkuda saja. “Di mana dalam ceritanya ketika sampai di pesisir beliau bertemu seorang kakek ,dan padanya dia minta untuk di tunjukan di mana orang sakti yang kian santang maksud tersebut”. Dan dengan senang hati si-kakek tersebutmenyanggupinya dan sementara dia mengajak beliau “kiansantang” untuk mampir dulu ke rumahnya.
Al-kisah setelah sampai di rumahnya tongkat dari sang kakek tersebut tertinggal di pesisir dan minta kian santang untuk mengambilkanya ,konon dikisahkan si-kian santang tak mampu mencabutnya sampai tanganya berdarah-darah ,disitulah kian santang baru sadar kalau kakek itu adalah orang yang di carinya. Dan akhirnya dengan membaca kalimah syahadat yang di ajarkan sang kakek tadi “yang akhirnya menjadi guru spiritualnya” tongkat tersebut dapat di cabut .
Cerita tersebut membumi sekali sampai saat sekarang. Dan yang aneh, kebanyakan orang menduga kalau kian santang itu adalah raden walang sungsang. Padahal banyak sekali cerita yang sepadan dengan kisah raden walang sungsang tersebut. Yang sesungguhnya dialah yang mengisahkan justru dialah yang di kira pelaku (raden walang sungsang atau pangeran cakrabuana) sebagai tokoh yang diceritakan itu. Tujuannya adalah hanya sebagai media dakwah dan penyebaran islam di bumi cirbon dan sekitarnya. Sehingga sampai sekarang banyak kalangan yang menyangka raden walangsungsang adalah kian santang bahkan ada yang menafikan kian santangadalah adik cakrabuana dan kakak dari rara santang.
Raden walangsungsang mengambil ceritaini dari perpustakaan kerajaan pajajaran dengan pertimbangan karena kisah itu mirip dengan kisahnya, Yang di mana kiansantang setelah pulang dari arab dia ingin meng-islamkan ayahnya prabu purnawarman namun di tolaknya dan kian santang memilih meninggalkan istana dan tahtanya di berikan adiknya yaitu darmayawarman. Begitu pula radenwalang sungsang yang pernah merantau ke arab dan meningkahkan adiknya rara santang yang di ambil istri oleh putra kerajaan mesir waktu itu dan pernikahan berlangsum di mesir yang dari perkawinan inilah nanti akan lahirlah raden syarif hidayatullah atau sunan gunung jati.
Keinginan Walangsungsang untuk meng-islamkan prabu siliwangi ditolak mentah-mentah dan ayahnya tidak ingin bertarung dengan anaknya maka dia memilih mensucikan diri atau bertapa, konon beliau menjelma macan putih. Pengambilan kisah penokohan dalam sebuah ceritra seperti ini sebenarnya pernah pula terjadi pada era sebelum raden walang sungsang yang tepatnya dilakukan oleh raja jaya-baya (raja islam pertama di tanah jawa) dari kerajaan panjalu atau kediri, di mana suatu masih di pegang raja airlangga kerajaan tersebut bernama kerajaan KAHURIPAN dan karena kedua anaknya semua meminta tahta maka kahuripan di bagi dua yaitu panjalu dan jenggala. Sepanjang perkembangan dua kerajaan tersebut selalu bermusuhan dan pada masa kerajaan panjalu dirajai oleh jaya baya, panjalu mampu menaklukkan jenggala dan di satukan lagi antara jenggala dan panjalu.
Pada waktu panjalu menaklukkan jenggala rajanya jaya-baya meminta empu sedha dan empu panuluh untuk mengutip naskah dari india yang judulnyamaha barata. Namun diverifikasi dengan gaya jawa, sebagai perlambang atas kemenangan perang saudara panjalu melawan jenggala. Yang akhirnya kitab tersebut di beri judul barata-yuda. Dan dalam kisah klasik jawa ini banyak kalangan masarakat yang mengira bahwa jaya baya adalah kelanjutan dari trah barata yaitu cicit dari parikesit putra abimanyu.
Juga kisah lainnya yang serupa pernah pula hadir kemasarakat yang tujuannya waktu itu sebagai media dakwah untuk melindungi rongrongan ajaran syariat terhadap kaum sufi. Maka ketika bergerakmenyebarkan islam WALI SONGO menurtubanyak kalangan membuat cerita al-halaq versi indonesia yaitu syekh siti jenar. Yang menurut Doktor Simon dari UGM Yogja berdasarkan temuannya karya-karya besar berupa naskah suluk dari sunan kali jaga dan lain sebagainya. Dapat di pastikan tokoh siti jenar adalah imajener hanya untuk media dakwah dan melindungi islam agar tetap pada ajaran ahlusunah wa jamaah.
Dan sampai saat ini pendapat itu masih simpang siur dan menjadi perdebatan dan polemik panjang oleh para ahli sejarah di tanah air.
Berziarah Dimakam Sang Penakluk Pulau Jawa
Syekh Subakir, tidak banyak orang yang tahu siapa sebenarnya sosok
tersebut. Tetapi Syekh Subakir menjadi tokoh pertama Islam yang datang
ke Pulau Jawa, jauh sebelum adanya para Walisongo maupun eranya syekh
Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak maupun Syekh Maulana Magribi. Konon
dahulu kala, Pulau Jawa masih merupakan hutan belantara yang sangat
angker. Datanglah seorang syekh dari Persia yang bernama Syekh Subakir.
Angkernya pulau Jawa itu dipenuhi dengan jin jahat. Kedatangan Syekh Subakir ke pulau Jawa asal mulanya hanyalah ingin mensyiarkan Agama Islam. Kedatangan sang syekh waktu itu boleh dikatakan sia-sia. Pasalnya, sang syekh mengetahui sendiri bahwa masyarakat di tanah Jawa sudah menganut agama tauhid. Orang Islam menyebut Tuhan dengan nama Allah, sedangkan orang Jawa ketika itu menyebut Tuhan dengan sebutan Gusti Pengeran (Tuhan sebagai tempat untuk dingengeri).
Saat itulah sang Syekh Subakir merasa bahwa agama Islam maupun apapun yang bersifat tauhid (hanya mengesakan Tuhan) adalah benar, walaupun apa namanya agama tersebut. Lantaran sudah menganut agama tauhid, maka Syekh Subakir berniat untuk pulang ke Persia. Namun, beliau mengetahui bahwa pulau Jawa masih labil. Banyak gempa di sana-sini. Bahkan Pulau Jawa terasa berguncang-guncang.
Akhirnya, Syekh Subakir menaklukkan keganasan Pulau Jawa tersebut dengan mengalahkan jin-jin yang jahat. Disamping itu, beliau menanam sebuah paku ghaib agar pulau Jawa tidak berguncang-guncang. Setelah paku ditanam, maka pulau Jawa sudah stabil. Konon ada tiga paku yang ditanam oleh Syekh Subakir. Salah satu paku ghaib tersebut konon berada di wilayah Magelang.
Tidak ada yang tahu pasti dimana makam syekh Subakir. Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat di Persia tahun 1462. Tetapi ada yang berpendapat bahwa beliau wafat di pulau Jawa. Yang mana yang benar, Wallahualam.
Makam Di Beji Benowo
Sebuah makam di desa Beji Benowo, disebut-sebut sebagai makam syekh Subakir. Makam tersebut terletak di dalam areal sebuah Pondok Pesantren. Jika kita mengunjungi makam tersebut, maka kita akan membaca tulisan-tulisan yang ada di dinding yakni, Sabar, Temenan (Sunguh-sungguh), Ngalah (mengalah), Neriman (menerima pemberian Tuhan dengan Ikhlas). Tulisan tersebut terlihat biasa saja, tetapi mengandung arti yang sangat dalam.
Tulisan-tulisan di tembok masjid Pondok tersebut melambangkan sifat yang harus dimiliki manusia jika ingin dekat dengan Gusti Allah.Waktu itu saya jauh hari sudah memiliki keinginan untuk berkunjung ke makam tersebut. Dan alhamdulillah akhirnya keinginan itupun menjadi kenyataan.
Setelah membaca tulisan-tulisan di tembok masjid pondok pesantren yang belum jadi itu,saya masuk ke dalam areal pondok yang saat itu sunyi sepi. Maklum, saya berziarah sekitar pukul 23.00Wib. Sampailah kami di sebuah areal makam yang hanya terdapat sebuah makam di luar dan tiga makam di dalam sebuah rumah.
Ketika memasuki pintu makam, kita harus membungkuk lantaran pintunya dibuat rendah sehingga mengharuskan siapapun yang memasukinya haruslah membungkukkan badan. Satu makam diluar disebut-sebut sebagai makam kyai pengelola pondok pesantren tersebut. Sementara tiga makam di dalam adalah makam Syekh Subakir dan dua makam istrinya. Makam Syekh Subakir dan para istrinya itu ditutupi oleh kain putih sehingga untuk melihatnya, kita harus melongok dan membuka tabir kainnya.
Lalu saya bertawasul sejenak diareal tersebut untuk beberapa lama. Ketentraman merasuki jiwaku saat melakukan semedi.Tiba-tiba
Suara-suara ghaib muncul seperti mengajak dialog aku. Tak ada perasaan takut pada diriku.Aku mulai bicara melalui rasa. Kami berbincang-bincang melalui mata batin. Beraneka pitutur luhur aku dapatkan sebagai sangu untuk mengarungi hidup di alam dunia yang fana ini. Alhamdulillah, begitulah kata-kata yang meluncur dari bibir saya karena sudah berziarah di makam Sang Penakluk Pulau Jawa..wallahu'alam. .
Akhir kata saya mohon maaf apabila ada kesalahan dlm penulisan dikarnakan saya hanyalah manusia yg doif .wasalamu'alaikum.wr.wb
Angkernya pulau Jawa itu dipenuhi dengan jin jahat. Kedatangan Syekh Subakir ke pulau Jawa asal mulanya hanyalah ingin mensyiarkan Agama Islam. Kedatangan sang syekh waktu itu boleh dikatakan sia-sia. Pasalnya, sang syekh mengetahui sendiri bahwa masyarakat di tanah Jawa sudah menganut agama tauhid. Orang Islam menyebut Tuhan dengan nama Allah, sedangkan orang Jawa ketika itu menyebut Tuhan dengan sebutan Gusti Pengeran (Tuhan sebagai tempat untuk dingengeri).
Saat itulah sang Syekh Subakir merasa bahwa agama Islam maupun apapun yang bersifat tauhid (hanya mengesakan Tuhan) adalah benar, walaupun apa namanya agama tersebut. Lantaran sudah menganut agama tauhid, maka Syekh Subakir berniat untuk pulang ke Persia. Namun, beliau mengetahui bahwa pulau Jawa masih labil. Banyak gempa di sana-sini. Bahkan Pulau Jawa terasa berguncang-guncang.
Akhirnya, Syekh Subakir menaklukkan keganasan Pulau Jawa tersebut dengan mengalahkan jin-jin yang jahat. Disamping itu, beliau menanam sebuah paku ghaib agar pulau Jawa tidak berguncang-guncang. Setelah paku ditanam, maka pulau Jawa sudah stabil. Konon ada tiga paku yang ditanam oleh Syekh Subakir. Salah satu paku ghaib tersebut konon berada di wilayah Magelang.
Tidak ada yang tahu pasti dimana makam syekh Subakir. Ada yang mengatakan bahwa beliau wafat di Persia tahun 1462. Tetapi ada yang berpendapat bahwa beliau wafat di pulau Jawa. Yang mana yang benar, Wallahualam.
Makam Di Beji Benowo
Sebuah makam di desa Beji Benowo, disebut-sebut sebagai makam syekh Subakir. Makam tersebut terletak di dalam areal sebuah Pondok Pesantren. Jika kita mengunjungi makam tersebut, maka kita akan membaca tulisan-tulisan yang ada di dinding yakni, Sabar, Temenan (Sunguh-sungguh), Ngalah (mengalah), Neriman (menerima pemberian Tuhan dengan Ikhlas). Tulisan tersebut terlihat biasa saja, tetapi mengandung arti yang sangat dalam.
Tulisan-tulisan di tembok masjid Pondok tersebut melambangkan sifat yang harus dimiliki manusia jika ingin dekat dengan Gusti Allah.Waktu itu saya jauh hari sudah memiliki keinginan untuk berkunjung ke makam tersebut. Dan alhamdulillah akhirnya keinginan itupun menjadi kenyataan.
Setelah membaca tulisan-tulisan di tembok masjid pondok pesantren yang belum jadi itu,saya masuk ke dalam areal pondok yang saat itu sunyi sepi. Maklum, saya berziarah sekitar pukul 23.00Wib. Sampailah kami di sebuah areal makam yang hanya terdapat sebuah makam di luar dan tiga makam di dalam sebuah rumah.
Ketika memasuki pintu makam, kita harus membungkuk lantaran pintunya dibuat rendah sehingga mengharuskan siapapun yang memasukinya haruslah membungkukkan badan. Satu makam diluar disebut-sebut sebagai makam kyai pengelola pondok pesantren tersebut. Sementara tiga makam di dalam adalah makam Syekh Subakir dan dua makam istrinya. Makam Syekh Subakir dan para istrinya itu ditutupi oleh kain putih sehingga untuk melihatnya, kita harus melongok dan membuka tabir kainnya.
Lalu saya bertawasul sejenak diareal tersebut untuk beberapa lama. Ketentraman merasuki jiwaku saat melakukan semedi.Tiba-tiba
Suara-suara ghaib muncul seperti mengajak dialog aku. Tak ada perasaan takut pada diriku.Aku mulai bicara melalui rasa. Kami berbincang-bincang melalui mata batin. Beraneka pitutur luhur aku dapatkan sebagai sangu untuk mengarungi hidup di alam dunia yang fana ini. Alhamdulillah, begitulah kata-kata yang meluncur dari bibir saya karena sudah berziarah di makam Sang Penakluk Pulau Jawa..wallahu'alam. .
Akhir kata saya mohon maaf apabila ada kesalahan dlm penulisan dikarnakan saya hanyalah manusia yg doif .wasalamu'alaikum.wr.wb
Kisah Serat Darmogandul
Ki Kalamwadi berguru kepada Reden Budi, sementara Raden Budi mempunyai murid bernama
Darmagandhul. Darmagandhul menanyakan kepada gurunya mengenai kapan agama Islam itu
datang di pulau Jawa. Ki Kalamwadi menjawabbahwa pada zaman Majapahit saat pemerintahan
Prabu Brawijaya, permaisuri Prabu Brawijaya membujuk agar beliau beralaih ke agama Islam. Sayid
Rahmat atau Sunan Bonang, kemenakan permaisuri Prabu Brawijaya yang berasal dari Campa, diberi
tanah di Tuban dan diizinkan untuk menyebarkan agama Islam. Daerah penyebarannya sepanjang
pantai utara Jawa, mulai dari Blambangan sampai Banten. Kemudian datanglah Raden Patah, yakni
putra Prabu Brawijaya yang lahir di tanah Palembang, yang diberi tanah Demak dan sebagai adipati,
juga diizinkan menyebarkan agama Islam. Penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan
Bonang di daerah Kediri mendapatkan tantangan dari Ki Buta Locaya penguasa di daerah tersebut.
Kemudian Sunan Bonang menuju ke desa Bogem, dan merusak arca kuda berkepala dua karya Prabu
Jayabaya. Perusakan arca tersebut mendapatkan tentangan Ki Buta Locaya yang mendesak agar
Sunan Bonang pergi dari daerah itu. Patih Gajah Mada menghadap Prabu Brawijaya dan
memberitahukan bahwa tanah Kertasana rusakakibat perbuatan Sunan Bonang. Akhirnya, Prabu
Brawijaya memerintahkan agar mengusir kaumIslam dari daerah Majapahit, kecuali kaum muslimin
yang tinggal di Ngampelgading dan Demak, Sunan Bonang dan Sunan Giri menyingkir ke Tuban dan
berlindung ke Demak.
Perlawanan antara pasukan Prabu Brawijaya dengan Sultan Demak , dalam pertempuran sengit itu
tentara Majapahit hancur, Gajah Mada gugur di medan laga. Kemudian orang-orang Majapahit yang
takluk kepada Demak diperintahkan masuk agama Islam. Akhirnya Sultan Patah yang didukung oleh
para wali pergi ke Ngampeldenta untuk menghadap neneknya. Neneknya Nyai Ngampeldenta sangat
menyesal perbuatan yang dilakukan oleh Sultan Patah dalam melawan ayahnya.
Ia mempermasalahkan Sultan Patah beserta para wali yang tidak baik misalnya budi kepadaPrabu
Brawijaya. Ia memberikan beberapa contoh yang tidak baik misalnya kejadian di Mesir yangdialami
Nabi Daud, perebutan kekuasaan yang dilakukan Prabu Dewatacengkar terhadap ayahnya, Prabu
Sindhula dan peristiwa Prabu Danapati raja Lokapala melawan ayahnya, Sang resi Wisrawa.
Contoh-contoh tersebut merupakan permusuhan antara anak melawan ayahnya, seperti halnya yang
dilakukan oleh Sultan Patah terhadap Prabu Brawijaya. Dengan adanya penjelasan dari neneknya
tadi, maka Sultan Patah sangat sedih dan menyesal atas segala perbuatannya. Ahkirnya Sunan
Kalijaga diutus untuk mencari Prabu Brawijaya dan memohon kepadanya agar bersedia kembali
menjadi raja Majapahit. Sekembalinya Sultan Patah ke Demak di sambut dengan gembira. Ia
menceritakan hal itu kepada Sunan Bonang, akhirnya Sunan Bonang memberikan penjelasan secara
panjang lebar bahwa perlawanannya terhadapayahnya itu tidak berdosa, karena ayahnya seorang
kafir.
Sunan Kalijaga menjumpai Prabu Brawijaya di Blambangan untuk menyampaikan tugasnya. Karena
kepandaian Sunan Kalijaga maka bersedialah Prabu Brawijaya kembali ke Majapahit. Ia sangat
tertarik atas keterangan Sunan sehingga prasangka buruk akan agama Islam sedikit banyak hilang.
Bahkan ia bermaksud untuk masuk agama Islam secara lahir maupun batin.
Penyebaran agama Islam terhadap punakawanPrabu Brawijaya, yakni Sabdapalon dan
Nayagenggong, yang berakhir dengan penolakan ( tidak berhasil ) Sabdapalon menilai bahwa Prabu
Brawijaya telah menyimpang dari para pendahulunya yang melestarikan agama Budha. Sunan
Kalijaga berusaha menghibur hati Prabu Brawijaya utuk bahwa ajaran agama Islam itu baik dan
diridhoi Tuhan. Sunan bersabda bahwa air telaga itu berbau wangi, dan terjadilah demikian. Setelah
selama seminggu dalam perjalanan yang melewati Panarukan, Besuki dan Prabalingga akhirnya
sampailah di Ngampeldenta.
Jatuhnya Kerajaan Majapahit atas serangan Demak yang dilukiskan secara simbolis. Darmagandhul
juga minta penjelasan tentang agama Nasrani yang kemudian dijelaskan oleh Kalamwadi. Disebutkan
bahwa agama Nasrani itu dibawa oleh Nabi Ngisa, Putra Tuhan. Dijelaskan pula, bahwa sebenarnya
Sultan Demak merasa menyesal atas penyerbuannya ke Kerajaaan Majapahit. Ia merasa berdosa
melawan ayahnya. Bahkan ia merasa pula bahwa pengangkatannya sebagai Sultan Demak itu juga
dari ayahnya. Akan tetapi semuanya telah terjadi, maka Sultan Demak dengan bersedih hati kembali
ke Demak. Darmagandhul menguraikan tentangsebab-sebab Nabi Adam dan Ibu Kawa turun dari
surga terkena marah Tuhan. Darmagandhul tidak mengetahui bagaimana pandangan kitab Jawa
tentang Nabi Adam itu. Ki Kalamwadi menjelaskan bahwa orang Jawa tidak mempunyai kitab yang
menceritakan tentang pengusiran Tuhan terhadap Nabi Adam dan Ibu Kawa itu. Kitab yang menjadi
pegangan raja hanyalah Manikmaya. Darmagandhul juga menguraikan pendapatnya bahwa baginda,
baik agama itu harus konsekuen mengerjakan peraturan yang ada di dalamnya. Namun, yang paling
baik bagi orang Jawa adalah agama Budi, sebab agama Budi telah dianut sejak dahulu kala.
Perbedaan agama Islam, Nasrani, Cina dan Jawa. Ki Kalamwadi mencela orang yang naik haji ke
Mekah dengan mengharapkan kelak masuk surga. Konon ada anggapan bahwa yang datang naik haji
ke Mekah dan mencium kakbah akan terhapus dosanya dan nantinya masuk surga. Hal itu itu
tidaklah benar. Orang akan masuk surga apabila dirinya bersih. Perbedaan adanya utusan dan kitab
yang menjadi pegangan itu berbeda. Kalamwadi menjawab bahwa itulah kebebasanyang diberikan
Tuhan agar manusia memilih agama yang menjadi kesenangannya. Meskipun demikian, agama Budi
bagi orang Jawa tetap lebih tinggi dan sesuai.
Kalamwadi membentangkan ajaran itu kepada istrinya, Perjiwati, mengenai hal keutamaan dalam
hidup dan mengenai ajaran perkawinan. Bekal perkawinan itu bukannya rupa dan harta akan tetapi
hati. Perkawinan diibaratkan sebagai galah dan kemudi, yang masing-masing harus sejalan. Diuraikan
pula mengenai 4 kemuliaan, yaitu:
1 kemuliaan yang lahir dari diri sendiri,
2 yang lahir dari harta
benda pemilik,
3 kemuliaan karena kepandaiannya,
4 kemuliaan karena pengetahuannya.
Generasi sekarang tidak boleh meremehkan generasi pendahulunya (orang kuna).
Menurut Ki Kalamwadi disebutkan bahwa bekaskerajaan Prabu Brawijaya tidak terletak di Kediri,
akan tetapi terletak di Daha. Akhir kehidupannya, Prabu Jayabaya muksa diiringkan oleh Patih
Tunggulwulung dan Nimas Ratu pagedhongan. Tunggulwulung diperintahkan menjaga GunungKelud
sedangkan Nimas ratu Pegendhongan menjadi raja jin penguasa laut selatan dengan gelar Ratu
Angin-Angin.
Darmagandhul. Darmagandhul menanyakan kepada gurunya mengenai kapan agama Islam itu
datang di pulau Jawa. Ki Kalamwadi menjawabbahwa pada zaman Majapahit saat pemerintahan
Prabu Brawijaya, permaisuri Prabu Brawijaya membujuk agar beliau beralaih ke agama Islam. Sayid
Rahmat atau Sunan Bonang, kemenakan permaisuri Prabu Brawijaya yang berasal dari Campa, diberi
tanah di Tuban dan diizinkan untuk menyebarkan agama Islam. Daerah penyebarannya sepanjang
pantai utara Jawa, mulai dari Blambangan sampai Banten. Kemudian datanglah Raden Patah, yakni
putra Prabu Brawijaya yang lahir di tanah Palembang, yang diberi tanah Demak dan sebagai adipati,
juga diizinkan menyebarkan agama Islam. Penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan
Bonang di daerah Kediri mendapatkan tantangan dari Ki Buta Locaya penguasa di daerah tersebut.
Kemudian Sunan Bonang menuju ke desa Bogem, dan merusak arca kuda berkepala dua karya Prabu
Jayabaya. Perusakan arca tersebut mendapatkan tentangan Ki Buta Locaya yang mendesak agar
Sunan Bonang pergi dari daerah itu. Patih Gajah Mada menghadap Prabu Brawijaya dan
memberitahukan bahwa tanah Kertasana rusakakibat perbuatan Sunan Bonang. Akhirnya, Prabu
Brawijaya memerintahkan agar mengusir kaumIslam dari daerah Majapahit, kecuali kaum muslimin
yang tinggal di Ngampelgading dan Demak, Sunan Bonang dan Sunan Giri menyingkir ke Tuban dan
berlindung ke Demak.
Perlawanan antara pasukan Prabu Brawijaya dengan Sultan Demak , dalam pertempuran sengit itu
tentara Majapahit hancur, Gajah Mada gugur di medan laga. Kemudian orang-orang Majapahit yang
takluk kepada Demak diperintahkan masuk agama Islam. Akhirnya Sultan Patah yang didukung oleh
para wali pergi ke Ngampeldenta untuk menghadap neneknya. Neneknya Nyai Ngampeldenta sangat
menyesal perbuatan yang dilakukan oleh Sultan Patah dalam melawan ayahnya.
Ia mempermasalahkan Sultan Patah beserta para wali yang tidak baik misalnya budi kepadaPrabu
Brawijaya. Ia memberikan beberapa contoh yang tidak baik misalnya kejadian di Mesir yangdialami
Nabi Daud, perebutan kekuasaan yang dilakukan Prabu Dewatacengkar terhadap ayahnya, Prabu
Sindhula dan peristiwa Prabu Danapati raja Lokapala melawan ayahnya, Sang resi Wisrawa.
Contoh-contoh tersebut merupakan permusuhan antara anak melawan ayahnya, seperti halnya yang
dilakukan oleh Sultan Patah terhadap Prabu Brawijaya. Dengan adanya penjelasan dari neneknya
tadi, maka Sultan Patah sangat sedih dan menyesal atas segala perbuatannya. Ahkirnya Sunan
Kalijaga diutus untuk mencari Prabu Brawijaya dan memohon kepadanya agar bersedia kembali
menjadi raja Majapahit. Sekembalinya Sultan Patah ke Demak di sambut dengan gembira. Ia
menceritakan hal itu kepada Sunan Bonang, akhirnya Sunan Bonang memberikan penjelasan secara
panjang lebar bahwa perlawanannya terhadapayahnya itu tidak berdosa, karena ayahnya seorang
kafir.
Sunan Kalijaga menjumpai Prabu Brawijaya di Blambangan untuk menyampaikan tugasnya. Karena
kepandaian Sunan Kalijaga maka bersedialah Prabu Brawijaya kembali ke Majapahit. Ia sangat
tertarik atas keterangan Sunan sehingga prasangka buruk akan agama Islam sedikit banyak hilang.
Bahkan ia bermaksud untuk masuk agama Islam secara lahir maupun batin.
Penyebaran agama Islam terhadap punakawanPrabu Brawijaya, yakni Sabdapalon dan
Nayagenggong, yang berakhir dengan penolakan ( tidak berhasil ) Sabdapalon menilai bahwa Prabu
Brawijaya telah menyimpang dari para pendahulunya yang melestarikan agama Budha. Sunan
Kalijaga berusaha menghibur hati Prabu Brawijaya utuk bahwa ajaran agama Islam itu baik dan
diridhoi Tuhan. Sunan bersabda bahwa air telaga itu berbau wangi, dan terjadilah demikian. Setelah
selama seminggu dalam perjalanan yang melewati Panarukan, Besuki dan Prabalingga akhirnya
sampailah di Ngampeldenta.
Jatuhnya Kerajaan Majapahit atas serangan Demak yang dilukiskan secara simbolis. Darmagandhul
juga minta penjelasan tentang agama Nasrani yang kemudian dijelaskan oleh Kalamwadi. Disebutkan
bahwa agama Nasrani itu dibawa oleh Nabi Ngisa, Putra Tuhan. Dijelaskan pula, bahwa sebenarnya
Sultan Demak merasa menyesal atas penyerbuannya ke Kerajaaan Majapahit. Ia merasa berdosa
melawan ayahnya. Bahkan ia merasa pula bahwa pengangkatannya sebagai Sultan Demak itu juga
dari ayahnya. Akan tetapi semuanya telah terjadi, maka Sultan Demak dengan bersedih hati kembali
ke Demak. Darmagandhul menguraikan tentangsebab-sebab Nabi Adam dan Ibu Kawa turun dari
surga terkena marah Tuhan. Darmagandhul tidak mengetahui bagaimana pandangan kitab Jawa
tentang Nabi Adam itu. Ki Kalamwadi menjelaskan bahwa orang Jawa tidak mempunyai kitab yang
menceritakan tentang pengusiran Tuhan terhadap Nabi Adam dan Ibu Kawa itu. Kitab yang menjadi
pegangan raja hanyalah Manikmaya. Darmagandhul juga menguraikan pendapatnya bahwa baginda,
baik agama itu harus konsekuen mengerjakan peraturan yang ada di dalamnya. Namun, yang paling
baik bagi orang Jawa adalah agama Budi, sebab agama Budi telah dianut sejak dahulu kala.
Perbedaan agama Islam, Nasrani, Cina dan Jawa. Ki Kalamwadi mencela orang yang naik haji ke
Mekah dengan mengharapkan kelak masuk surga. Konon ada anggapan bahwa yang datang naik haji
ke Mekah dan mencium kakbah akan terhapus dosanya dan nantinya masuk surga. Hal itu itu
tidaklah benar. Orang akan masuk surga apabila dirinya bersih. Perbedaan adanya utusan dan kitab
yang menjadi pegangan itu berbeda. Kalamwadi menjawab bahwa itulah kebebasanyang diberikan
Tuhan agar manusia memilih agama yang menjadi kesenangannya. Meskipun demikian, agama Budi
bagi orang Jawa tetap lebih tinggi dan sesuai.
Kalamwadi membentangkan ajaran itu kepada istrinya, Perjiwati, mengenai hal keutamaan dalam
hidup dan mengenai ajaran perkawinan. Bekal perkawinan itu bukannya rupa dan harta akan tetapi
hati. Perkawinan diibaratkan sebagai galah dan kemudi, yang masing-masing harus sejalan. Diuraikan
pula mengenai 4 kemuliaan, yaitu:
1 kemuliaan yang lahir dari diri sendiri,
2 yang lahir dari harta
benda pemilik,
3 kemuliaan karena kepandaiannya,
4 kemuliaan karena pengetahuannya.
Generasi sekarang tidak boleh meremehkan generasi pendahulunya (orang kuna).
Menurut Ki Kalamwadi disebutkan bahwa bekaskerajaan Prabu Brawijaya tidak terletak di Kediri,
akan tetapi terletak di Daha. Akhir kehidupannya, Prabu Jayabaya muksa diiringkan oleh Patih
Tunggulwulung dan Nimas Ratu pagedhongan. Tunggulwulung diperintahkan menjaga GunungKelud
sedangkan Nimas ratu Pegendhongan menjadi raja jin penguasa laut selatan dengan gelar Ratu
Angin-Angin.
Bolehkah Berdoa Dikuburan ??
Berdoa, atau bertawasul, atau berdzikir, itu dimana saja, boleh
tawassul dari rumah, atau di kamar, atau di masjid, atau di kuburan,
atau dimana saja, pastilah mungkin hati kita yang sudah tertular virus
sekte sesat ini akan langsung Alergi bila mendengar DOA DI KUBURAN,
ketahuilah berdoa di kuburan pun sunnah Rasul saw, beliau berdoa di
Pekuburan Baqii, dan berkali-kali beliau saw melakukannya. Dan Rasul saw
memerintahkan untuk mengucapkan Salam untuk ahli kubur dengan ucapan
Assalaamu alaikum Ahliddiyaar minalmuminin walmuslimin, wa Innaa Insya
Allah Lalaahiquun, As alullah lana wa lakumul aafiah.. (Salam sejahtera
ataskalian wahai penduduk penduduk dari Mukminin dan Muslimin, Semoga
kasih sayang Allah atas yang terdahulu dan yang akan datang, dan Sungguh
Kami Insya Allah akan menyusul kalian) (ShahihMuslim Bab 35 hadits no
974.975,976. *3 hadits dalam makna yang sama). Hadits ini menjelaskan
bahwa Rasul saw bersalam pada Ahli Kubur dan mengajak mereka
berbincang-bincang dengan ucapan Sungguh Kami Insya Allah akan menyusul
kalian.
Demikian pula tawassul, karena tawassul adalah doa kepada Allah, bila anda menuju makam untuk berziarah, berdoalah kepada Allah, Wahai Allah, Demi orang-orang yang bermunajat pada Mu, Demi orang-orang yang Bersemangatkepada keridhoan Mu, Demi langkahku ini,atau dengan tawassul menyebut nama sebagaimana Rasul saw menyebut Demi para Nabi sebelumku.. atau misalnya Wahai Allah, Demi Ahlul Badr, atau Demi Muhajirin dan Anshar, atau Demi Ruku danSujudnya para wali Mu, atau menyebut nama mereka sebagaimana Rasul saw menyebut nama para malaikat. Toh doa-doa ini kepada Allah, berperantarakan ketaatan para hamba-hamba Nya, memang manusia hidup dan mati, namun amal shalihnya tetap kekal.
Anda ingat peristiwa Adam as?, mengapa malaikat diperintahkan sujud pada makhluk?, karena para malaikat itu sujud pada Adam as bukan menyembah Adam as, tetapi menyembah Allah.. karena jutsru sujud pada Adam itu adalah ketaatan, namun apa yang dilakukan Iblis?, pada dasarnya Iblis hanya ingin sujud kepada Allah semata, tak mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, dan jatuhlah ia kepada Laknat Allah,maka orang yang tak mau memuliakan orang yang dimuliakan Allah swt adalah para pengikut Iblis, naudzubillahi min dzalik.
Wahai saudaraku, jangan alergi dengan kalimat syirik, syirik itu adalah bagi orang yang berkeyakinan ada Tuhan Lain selain Allah, atau ada yang lebih kuat dari Allah, atau meyakini ada tuhan yang sama dengan Allah swt. Inilah makna syirik. Mereka yang berkemenyan, sajen dlsb itu,tetap tak mungkin kita pastikan mereka musyrik, karena kita tak tahu isi hatinya, sebagaimana Rasul saw murka kepada Usamah bin Zeyd ra yang membunuh seorang pimpinan Laskar Kafir yang telah terjatuh pedangnya, lalu dengan wajah tak serius ia mengucap syahadat, lalu Usamah membunuhnya, ah? betapa murkanya Rasul saw saat mendengar kabar itu.., seraya bersabda : APAKAH KAUMEMBUNUHNYA PADAHAL IA MENGATAKAN LAA ILAAHA ILLALLAH..?!!, lalu Usamah ra berkata: Kafir itu hanya bermaksud ingin menyelamatkan diri Wahai Rasulullah.., maka beliau saw bangkit dari duduknya dengan wajah merah padam dan membentak : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHU ISI HATINYA??!!!, lalu Rasul saw maju mendekati Usamah dan mengulangi ucapannya : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHU ISI HATINYA??!!!, Usamah ra mundur dan Rasul saw terus mengulanginya : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHUISI HATINYA??!!!, hingga Usamah ra berkata : Demi Allah dengan peristiwa ini aku merasa alangkah indahnya bila aku baru masuk islam hari ini..(maksudnya tak pernah berbuat kesalahan seperti ini dalam keislamanku). (Shahih Muslim Bab 41 no. 158 dan hadits yang sama no.159)
Dan juga dari peristiwa yang sama dengan riwayat yang lain, bahwa Usamahbin Zeyd ra membunuh seorang kafir yang kejam setelah kafir jahat itu mengucap Laa Ilaaha Illallah, maka Rasul saw memanggilnya dan bertanya : MENGAPA KAU MEMBUNUHNYA..?!, Usamah menjawab : Yaa Rasulullah, ia telah membunuh fulan dan fulan, dan membantai muslimin, lalu saat kuangkat pedangku kewajahnya maka ia mengatakan Laa Ilaaha illallah.., lalu Rasul saw menjawab : LALU KAU MEMBUNUHNYA..?!!, Usamah ra menjawab: benar, maka Rasulullah saw berkata : APA YANG AKAN KAU PERBUAT DENGAN LAA ILAAHA ILLLALLAH BILA TELAH DATANG HARI KIAMAT..?!!, maka Usamah berkata : Mohonkan pengampunan bagiku Wahai Rasulullah??, Rasul saw menjawab dengan ucapan yang sama : APA YANG AKAN KAU PERBUAT DENGAN LAA ILAAHA ILLLALLAH BILA TELAH DATANG HARI KIAMAT..?!!!, dan beliau terus mengulang ulangnya.. (Shahih Muslim Bab 41 no.160).
Kita tak bisa menilai orang yang berbuat apapun dengan tuduhan syirik, dia berkomat kamit dengan sajen dan mandi sumur tujuh rupa dan segala macam kebiasaan orang kafir lainnya, ini merupakan adat istiadat biasa, tak mungkin kita mengatakannya musyrik hanya karena melihat perbuatannya, kecuali ia ber ikrar dengan lidahnya.
Satu contoh, seorang muslim mandi air kembang, berendam di air mawar, lalu menaruh keris di pinggangnya, lalu menyalakan kemenyan, lalu ia shalat, musyrikkah ia?,
dan orang lain mandi dengan shower, berendam di air hangat, menggunakan busa mandi, lalu menaruh pistol dipinggangnya, lalu menyemprotkan pewangi ruangan, lalu shalat, musyrikkahdia?,
apa bedanya?, keduanya melakukan kebiasaan orang kafir..
Kesimpulannya adalah, tidak ada kalimat musyrik bisa dituduhkan kepada siapapunterkecuali dengan kesaksian lidahnya. Hati-hatilah dengan ucapan syirik, bila seseorang muslim lalu musyrik, maka pernikahannya batal, istrinya haram dikumpulinya, jima dengan istri terhitung zina, anaknya tak bernasab padanya, kewaliannya atas putrinya tidak sah, dan bila keluarganya wafat ia tak mewarisi dan bila ia wafat tak pula diwarisi, ia diharamkan shalat, diharamkan dikuburkan di pekuburan muslimin.
Saran saya, berziarahlah kubur bila anda berkenan, dan palingkan pandangan dan sangka buruk dari mereka yang bertaburan menyan dan kembang dlsb, jangan sesekali menuduh mereka musyrik, mungkin hati mereka musyrik, tapi kita dimurkai Rasul saw bila menuduhnya. Bila anda selesai berziarah,ada baiknya anda menyalami mereka dandengan senyum hangat anda memberi mereka hadiah Al Quran, dan katakanlah :Wahai Tuan, para Sunan dan wali songo itu mempunyai kesenangan dan kegemaran, dan mereka akan senang bila Tuan mengamalkan kegemaran dan amal mereka, pastilah serta merta mereka akan bertanya dengan sigap..apakah kegemaran mereka??!!, jawablah dengan lembut dan berwibawa: Mereka siang malamnya asyik dengan AlQuran.. pasti Tuan akan disayangi merekabahkan disayang Allah bila asyik membaca Al Quran, Nah..ini saya hadiahkan pada tuan, barang yang paling disayangi oleh Para Wali dan Sunan..
DAN HAMBA HAMBA ARRAHMAN (ALLAH SWT) YANG BERJALAN DIMUKA BUMI DENGANRENDAH DIRI, (tidak sombong), DAN BILA MEREKA DIAJAK BICARA OLEH ORANG ORANGJAHIL, MAKA MEREKA MENJAWABNYA DENGAN LEMBUT (Alfurqan-63).
Wallahu alam
Demikian pula tawassul, karena tawassul adalah doa kepada Allah, bila anda menuju makam untuk berziarah, berdoalah kepada Allah, Wahai Allah, Demi orang-orang yang bermunajat pada Mu, Demi orang-orang yang Bersemangatkepada keridhoan Mu, Demi langkahku ini,atau dengan tawassul menyebut nama sebagaimana Rasul saw menyebut Demi para Nabi sebelumku.. atau misalnya Wahai Allah, Demi Ahlul Badr, atau Demi Muhajirin dan Anshar, atau Demi Ruku danSujudnya para wali Mu, atau menyebut nama mereka sebagaimana Rasul saw menyebut nama para malaikat. Toh doa-doa ini kepada Allah, berperantarakan ketaatan para hamba-hamba Nya, memang manusia hidup dan mati, namun amal shalihnya tetap kekal.
Anda ingat peristiwa Adam as?, mengapa malaikat diperintahkan sujud pada makhluk?, karena para malaikat itu sujud pada Adam as bukan menyembah Adam as, tetapi menyembah Allah.. karena jutsru sujud pada Adam itu adalah ketaatan, namun apa yang dilakukan Iblis?, pada dasarnya Iblis hanya ingin sujud kepada Allah semata, tak mau memuliakan makhluk yang dimuliakan Allah, dan jatuhlah ia kepada Laknat Allah,maka orang yang tak mau memuliakan orang yang dimuliakan Allah swt adalah para pengikut Iblis, naudzubillahi min dzalik.
Wahai saudaraku, jangan alergi dengan kalimat syirik, syirik itu adalah bagi orang yang berkeyakinan ada Tuhan Lain selain Allah, atau ada yang lebih kuat dari Allah, atau meyakini ada tuhan yang sama dengan Allah swt. Inilah makna syirik. Mereka yang berkemenyan, sajen dlsb itu,tetap tak mungkin kita pastikan mereka musyrik, karena kita tak tahu isi hatinya, sebagaimana Rasul saw murka kepada Usamah bin Zeyd ra yang membunuh seorang pimpinan Laskar Kafir yang telah terjatuh pedangnya, lalu dengan wajah tak serius ia mengucap syahadat, lalu Usamah membunuhnya, ah? betapa murkanya Rasul saw saat mendengar kabar itu.., seraya bersabda : APAKAH KAUMEMBUNUHNYA PADAHAL IA MENGATAKAN LAA ILAAHA ILLALLAH..?!!, lalu Usamah ra berkata: Kafir itu hanya bermaksud ingin menyelamatkan diri Wahai Rasulullah.., maka beliau saw bangkit dari duduknya dengan wajah merah padam dan membentak : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHU ISI HATINYA??!!!, lalu Rasul saw maju mendekati Usamah dan mengulangi ucapannya : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHU ISI HATINYA??!!!, Usamah ra mundur dan Rasul saw terus mengulanginya : APAKAH KAU BELAH SANUBARINYA HINGGA KAU TAHUISI HATINYA??!!!, hingga Usamah ra berkata : Demi Allah dengan peristiwa ini aku merasa alangkah indahnya bila aku baru masuk islam hari ini..(maksudnya tak pernah berbuat kesalahan seperti ini dalam keislamanku). (Shahih Muslim Bab 41 no. 158 dan hadits yang sama no.159)
Dan juga dari peristiwa yang sama dengan riwayat yang lain, bahwa Usamahbin Zeyd ra membunuh seorang kafir yang kejam setelah kafir jahat itu mengucap Laa Ilaaha Illallah, maka Rasul saw memanggilnya dan bertanya : MENGAPA KAU MEMBUNUHNYA..?!, Usamah menjawab : Yaa Rasulullah, ia telah membunuh fulan dan fulan, dan membantai muslimin, lalu saat kuangkat pedangku kewajahnya maka ia mengatakan Laa Ilaaha illallah.., lalu Rasul saw menjawab : LALU KAU MEMBUNUHNYA..?!!, Usamah ra menjawab: benar, maka Rasulullah saw berkata : APA YANG AKAN KAU PERBUAT DENGAN LAA ILAAHA ILLLALLAH BILA TELAH DATANG HARI KIAMAT..?!!, maka Usamah berkata : Mohonkan pengampunan bagiku Wahai Rasulullah??, Rasul saw menjawab dengan ucapan yang sama : APA YANG AKAN KAU PERBUAT DENGAN LAA ILAAHA ILLLALLAH BILA TELAH DATANG HARI KIAMAT..?!!!, dan beliau terus mengulang ulangnya.. (Shahih Muslim Bab 41 no.160).
Kita tak bisa menilai orang yang berbuat apapun dengan tuduhan syirik, dia berkomat kamit dengan sajen dan mandi sumur tujuh rupa dan segala macam kebiasaan orang kafir lainnya, ini merupakan adat istiadat biasa, tak mungkin kita mengatakannya musyrik hanya karena melihat perbuatannya, kecuali ia ber ikrar dengan lidahnya.
Satu contoh, seorang muslim mandi air kembang, berendam di air mawar, lalu menaruh keris di pinggangnya, lalu menyalakan kemenyan, lalu ia shalat, musyrikkah ia?,
dan orang lain mandi dengan shower, berendam di air hangat, menggunakan busa mandi, lalu menaruh pistol dipinggangnya, lalu menyemprotkan pewangi ruangan, lalu shalat, musyrikkahdia?,
apa bedanya?, keduanya melakukan kebiasaan orang kafir..
Kesimpulannya adalah, tidak ada kalimat musyrik bisa dituduhkan kepada siapapunterkecuali dengan kesaksian lidahnya. Hati-hatilah dengan ucapan syirik, bila seseorang muslim lalu musyrik, maka pernikahannya batal, istrinya haram dikumpulinya, jima dengan istri terhitung zina, anaknya tak bernasab padanya, kewaliannya atas putrinya tidak sah, dan bila keluarganya wafat ia tak mewarisi dan bila ia wafat tak pula diwarisi, ia diharamkan shalat, diharamkan dikuburkan di pekuburan muslimin.
Saran saya, berziarahlah kubur bila anda berkenan, dan palingkan pandangan dan sangka buruk dari mereka yang bertaburan menyan dan kembang dlsb, jangan sesekali menuduh mereka musyrik, mungkin hati mereka musyrik, tapi kita dimurkai Rasul saw bila menuduhnya. Bila anda selesai berziarah,ada baiknya anda menyalami mereka dandengan senyum hangat anda memberi mereka hadiah Al Quran, dan katakanlah :Wahai Tuan, para Sunan dan wali songo itu mempunyai kesenangan dan kegemaran, dan mereka akan senang bila Tuan mengamalkan kegemaran dan amal mereka, pastilah serta merta mereka akan bertanya dengan sigap..apakah kegemaran mereka??!!, jawablah dengan lembut dan berwibawa: Mereka siang malamnya asyik dengan AlQuran.. pasti Tuan akan disayangi merekabahkan disayang Allah bila asyik membaca Al Quran, Nah..ini saya hadiahkan pada tuan, barang yang paling disayangi oleh Para Wali dan Sunan..
DAN HAMBA HAMBA ARRAHMAN (ALLAH SWT) YANG BERJALAN DIMUKA BUMI DENGANRENDAH DIRI, (tidak sombong), DAN BILA MEREKA DIAJAK BICARA OLEH ORANG ORANGJAHIL, MAKA MEREKA MENJAWABNYA DENGAN LEMBUT (Alfurqan-63).
Wallahu alam
Biografi Rangga Warsita
Raden Ngabehi Rangga Warsita (Ronggowarsito; lahir di Surakarta,
Jawa Tengah, 15 Maret 1802 – meninggal di Surakarta, Jawa Tengah, 24
Desember 1873 pada umur 71 tahun) adalah pujangga besar budaya Jawa yang
hidup di Kasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga besar
terakhir tanah Jawa.
Nama aslinya adalah Bagus Burham.Ia adalah putra dari Mas Pajangswara dan cucu dari Yasadipura II, pujangga besar Kasunanan Surakarta.
Ayah Bagus Burham merupakan keturunan Kesultanan Pajang sedangkan ibunya adalah keturunandari Kesultanan Demak. Bagus Burham juga memiliki seorang pengasuh setia bernama Ki Tanujoyo.
aktu muda Burham terkenal nakal dan gemar judi. Ia dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada Kyai Imam Besari pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di Desa Tegalsari (Ponorogo). Pada mulanyaia tetap saja bandel, bahkan sampai kabur ke Madiun. Setelah kembali ke Ponorogo, konon, ia mendapat"pencerahan" di Sungai Kedungwatu, sehingga berubah menjadi pemuda alim yang pandai mengaji.
Ketika pulang ke Surakarta, Burham diambil sebagai cucu angkat Panembahan Buminoto (adik Pakubuwana IV). Ia kemudian diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom bergelar Mas Pajanganom tanggal 28 Oktober 1819.
Pada masa pemerintahan Pakubuwana V (1820 – 1823), karier Burham tersendat-sendat karena raja baru ini kurang suka dengan Panembahan Buminoto yang selalu mendesaknya agar pangkat Burham dinaikkan.
Pada tanggal 9 November 1821 Burham menikah dengan Raden Ayu Gombak dan ikut mertuanya, yaitu Adipati Cakradiningrat di Kediri. Di sana ia merasa jenuh dan memutuskan berkelana ditemani Ki Tanujoyo. Konon, Burham berkelana sampai ke pulau Bali di mana ia mempelajari naskah-naskah sastra Hindu koleksi Ki Ajar Sidalaku.
Bagus Burham diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei Ronggowarsito, menggantikan ayahnya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Lalu setelah kematian kakeknya (Yasadipura II), Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga keraton Surakarta oleh Pakubuwana VII pada tanggal 14 September 1845.
Pada masa inilah Ranggawarsita melahirkan banyak karya sastra. Hubungannya dengan Pakubuwana VII juga sangat harmonis. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam ilmu kesaktian.
Naskah-naskah babad cenderung bersifat simbolis dalam menggambarkan keistimewaan Ranggawarsita. Misalnya, ia dikisahkan mengerti bahasa binatang. Ini merupakan simbol bahwa, Ranggawarsita peka terhadap keluh kesah rakyat kecil.
Pakubuwana IX naik takhta sejak tahun 1861. Ia adalah putra Pakubuwana VI yang dibuang ke Ambon tahun 1830 karena mendukung Pangeran Diponegoro. Konon, sebelum menangkap Pakubuwana VI, pihak Belanda lebih dulu menangkap juru tulis keraton, yaitu Mas Pajangswara untuk dimintai kesaksian. Meskipun disiksa sampai tewas, Pajangswara tetap diam tidak mau membocorkan hubungan Pakubuwana VI dengan Pangeran Dipanegara.
Meskipun demikian, Belanda tetap saja membuang Pakubuwana VI dengan alasan bahwa Pajangswara telah membocorkan semuanya. Fitnah inilah yang menyebabkan Pakubuwana IX kurang menyukai Ranggawarsita, yang tidak lain adalah putra Pajangswara.
Hubungan Ranggawarsita dengan Belanda juga kurang baik. Meskipun ia memiliki sahabat dan murid seorang Indo bernama C.F. Winter, Sr., tetap saja gerak-geriknya diawasi Belanda. Ranggawarsita dianggap sebagai jurnalis berbahaya yang tulisan-tulisannya dapat membangkitkan semangat juang kaum pribumi. Karena suasana kerja yang semakin tegang,akibatnya Ranggawarsita pun keluardari jabatan redaksi surat kabar Bramartani tahun 1870.
Ranggawarsita meninggal dunia secara misterius tanggal 24 Desember 1873. Anehnya, tanggal kematian tersebut justru terdapat dalam karya terakhirnya, yaitu SeratSabdajati yang ia tulis sendiri. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Ranggawarsita meninggal karena dihukum mati, sehingga ia bisa mengetahui dengan persis kapan hari kematiannya.
Penulis yang berpendapat demikian adalah Suripan Sadi Hutomo (1979) dan Andjar Any (1979). Pendapat tersebut mendapat bantahan dari pihak keraton Surakarta yang berpendapat kalau Ranggawarsita adalah peramal ulung sehingga tidak aneh kalau ia dapat meramal hari kematiannya sendiri.
Ranggawarsita dimakamkan di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Makamnya pernah dikunjungi dua presiden Indonesia, yaitu Soekarno dan Gus Dur pada masa mereka menjabat.
Istilah Zaman Edan konon pertama kali diperkenalkan oleh Ranggawarsita dalam Serat Kalatida, yang terdiri atas 12 bait tembang Sinom. Salah satu bait yangpaling terkenal adalah:
amenangi zaman edan,
ewuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling klawan waspada.
yang terjemahannya sebagai berikut:
menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak,
ikut gila tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti (gila),
tidak akan mendapat bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetapingat dan waspada.
Syair di atas menurut analisis seorang penulis bernama Ki Sumidi Adisasmito adalah ungkapan kekesalan hati pada masa pemerintahan Pakubuwono IX yang dikelilingi para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi. Syair tersebut masih relevan hingga zaman modern ini di mana banyak dijumpai para pejabat yang suka mencari keutungan pribadi tanpa memedulikan kerugian pihak lain.
Karya sastra tulisan Ranggawarsita antara lain:
Bambang Dwihastha : cariyos Ringgit Purwa
Bausastra Kawi atau Kamus Kawi – Jawa, beserta C.F. Winter sr.
Sajarah Pandhawa lan Korawa : miturut Mahabharata, beserta C.F. Winter sr.
Sapta dharma
Serat Aji Pamasa
Serat Candrarini
Serat Cemporet
Serat Jaka Lodang
Serat Jayengbaya
Serat Kalatidha
Serat Panitisastra
Serat Pandji Jayeng Tilam
Serat Paramasastra
Serat Paramayoga
Serat Pawarsakan
Serat Pustaka Raja
Suluk Saloka Jiwa
Serat Wedaraga
Serat Witaradya
Sri Kresna Barata
Wirid Hidayat Jati
Wirid Ma'lumat Jati
Serat Sabda Jati
Ramalan tentang Kemerdekaan Indonesia
Ranggawarsita hidup pada masa penjajahan Belanda. Ia menyaksikansendiri bagaimana penderitaan rakyat Jawa, terutama ketika program Tanam Paksa dijalankan pasca Perang Diponegoro. Dalam suasana serba memprihatinkan itu, Ranggawarsita meramalkan datangnya kemerdekaan, yaitu kelak pada tahun Wiku Sapta NgesthiJanma.
Kalimat yang terdiri atas empat katatersebut terdapat dalam Serat Jaka Lodang, dan merupakan kalimat Suryasengkala yang jika ditafsirkan akan diperoleh angka 7-7-8-1. Pembacaan Suryasengkala adalah dibalik dari belakang ke depan, yaitu1877 Saka, yang bertepatan dengan 1945 Masehi, yaitu tahun kemerdekan Republik Indonesia.
Pengalaman pribadi Presiden Soekarno pada masa penjajahan adalah ketika berjumpa dengan para petani miskin yang tetap bersemangat di dalam penderitaan, karena mereka yakin pada kebenaran ramalan Ranggawarsita tentang datangnya kemerdekaan di kemudian hari.
Nama aslinya adalah Bagus Burham.Ia adalah putra dari Mas Pajangswara dan cucu dari Yasadipura II, pujangga besar Kasunanan Surakarta.
Ayah Bagus Burham merupakan keturunan Kesultanan Pajang sedangkan ibunya adalah keturunandari Kesultanan Demak. Bagus Burham juga memiliki seorang pengasuh setia bernama Ki Tanujoyo.
aktu muda Burham terkenal nakal dan gemar judi. Ia dikirim kakeknya untuk berguru agama Islam pada Kyai Imam Besari pemimpin Pesantren Gebang Tinatar di Desa Tegalsari (Ponorogo). Pada mulanyaia tetap saja bandel, bahkan sampai kabur ke Madiun. Setelah kembali ke Ponorogo, konon, ia mendapat"pencerahan" di Sungai Kedungwatu, sehingga berubah menjadi pemuda alim yang pandai mengaji.
Ketika pulang ke Surakarta, Burham diambil sebagai cucu angkat Panembahan Buminoto (adik Pakubuwana IV). Ia kemudian diangkat sebagai Carik Kadipaten Anom bergelar Mas Pajanganom tanggal 28 Oktober 1819.
Pada masa pemerintahan Pakubuwana V (1820 – 1823), karier Burham tersendat-sendat karena raja baru ini kurang suka dengan Panembahan Buminoto yang selalu mendesaknya agar pangkat Burham dinaikkan.
Pada tanggal 9 November 1821 Burham menikah dengan Raden Ayu Gombak dan ikut mertuanya, yaitu Adipati Cakradiningrat di Kediri. Di sana ia merasa jenuh dan memutuskan berkelana ditemani Ki Tanujoyo. Konon, Burham berkelana sampai ke pulau Bali di mana ia mempelajari naskah-naskah sastra Hindu koleksi Ki Ajar Sidalaku.
Bagus Burham diangkat sebagai Panewu Carik Kadipaten Anom bergelar Raden Ngabei Ronggowarsito, menggantikan ayahnya yang meninggal di penjara Belanda tahun 1830. Lalu setelah kematian kakeknya (Yasadipura II), Ranggawarsita diangkat sebagai pujangga keraton Surakarta oleh Pakubuwana VII pada tanggal 14 September 1845.
Pada masa inilah Ranggawarsita melahirkan banyak karya sastra. Hubungannya dengan Pakubuwana VII juga sangat harmonis. Ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam ilmu kesaktian.
Naskah-naskah babad cenderung bersifat simbolis dalam menggambarkan keistimewaan Ranggawarsita. Misalnya, ia dikisahkan mengerti bahasa binatang. Ini merupakan simbol bahwa, Ranggawarsita peka terhadap keluh kesah rakyat kecil.
Pakubuwana IX naik takhta sejak tahun 1861. Ia adalah putra Pakubuwana VI yang dibuang ke Ambon tahun 1830 karena mendukung Pangeran Diponegoro. Konon, sebelum menangkap Pakubuwana VI, pihak Belanda lebih dulu menangkap juru tulis keraton, yaitu Mas Pajangswara untuk dimintai kesaksian. Meskipun disiksa sampai tewas, Pajangswara tetap diam tidak mau membocorkan hubungan Pakubuwana VI dengan Pangeran Dipanegara.
Meskipun demikian, Belanda tetap saja membuang Pakubuwana VI dengan alasan bahwa Pajangswara telah membocorkan semuanya. Fitnah inilah yang menyebabkan Pakubuwana IX kurang menyukai Ranggawarsita, yang tidak lain adalah putra Pajangswara.
Hubungan Ranggawarsita dengan Belanda juga kurang baik. Meskipun ia memiliki sahabat dan murid seorang Indo bernama C.F. Winter, Sr., tetap saja gerak-geriknya diawasi Belanda. Ranggawarsita dianggap sebagai jurnalis berbahaya yang tulisan-tulisannya dapat membangkitkan semangat juang kaum pribumi. Karena suasana kerja yang semakin tegang,akibatnya Ranggawarsita pun keluardari jabatan redaksi surat kabar Bramartani tahun 1870.
Ranggawarsita meninggal dunia secara misterius tanggal 24 Desember 1873. Anehnya, tanggal kematian tersebut justru terdapat dalam karya terakhirnya, yaitu SeratSabdajati yang ia tulis sendiri. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Ranggawarsita meninggal karena dihukum mati, sehingga ia bisa mengetahui dengan persis kapan hari kematiannya.
Penulis yang berpendapat demikian adalah Suripan Sadi Hutomo (1979) dan Andjar Any (1979). Pendapat tersebut mendapat bantahan dari pihak keraton Surakarta yang berpendapat kalau Ranggawarsita adalah peramal ulung sehingga tidak aneh kalau ia dapat meramal hari kematiannya sendiri.
Ranggawarsita dimakamkan di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten. Makamnya pernah dikunjungi dua presiden Indonesia, yaitu Soekarno dan Gus Dur pada masa mereka menjabat.
Istilah Zaman Edan konon pertama kali diperkenalkan oleh Ranggawarsita dalam Serat Kalatida, yang terdiri atas 12 bait tembang Sinom. Salah satu bait yangpaling terkenal adalah:
amenangi zaman edan,
ewuhaya ing pambudi,
mélu ngédan nora tahan,
yén tan mélu anglakoni,
boya keduman mélik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang éling klawan waspada.
yang terjemahannya sebagai berikut:
menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak,
ikut gila tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti (gila),
tidak akan mendapat bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetapingat dan waspada.
Syair di atas menurut analisis seorang penulis bernama Ki Sumidi Adisasmito adalah ungkapan kekesalan hati pada masa pemerintahan Pakubuwono IX yang dikelilingi para penjilat yang gemar mencari keuntungan pribadi. Syair tersebut masih relevan hingga zaman modern ini di mana banyak dijumpai para pejabat yang suka mencari keutungan pribadi tanpa memedulikan kerugian pihak lain.
Karya sastra tulisan Ranggawarsita antara lain:
Bambang Dwihastha : cariyos Ringgit Purwa
Bausastra Kawi atau Kamus Kawi – Jawa, beserta C.F. Winter sr.
Sajarah Pandhawa lan Korawa : miturut Mahabharata, beserta C.F. Winter sr.
Sapta dharma
Serat Aji Pamasa
Serat Candrarini
Serat Cemporet
Serat Jaka Lodang
Serat Jayengbaya
Serat Kalatidha
Serat Panitisastra
Serat Pandji Jayeng Tilam
Serat Paramasastra
Serat Paramayoga
Serat Pawarsakan
Serat Pustaka Raja
Suluk Saloka Jiwa
Serat Wedaraga
Serat Witaradya
Sri Kresna Barata
Wirid Hidayat Jati
Wirid Ma'lumat Jati
Serat Sabda Jati
Ramalan tentang Kemerdekaan Indonesia
Ranggawarsita hidup pada masa penjajahan Belanda. Ia menyaksikansendiri bagaimana penderitaan rakyat Jawa, terutama ketika program Tanam Paksa dijalankan pasca Perang Diponegoro. Dalam suasana serba memprihatinkan itu, Ranggawarsita meramalkan datangnya kemerdekaan, yaitu kelak pada tahun Wiku Sapta NgesthiJanma.
Kalimat yang terdiri atas empat katatersebut terdapat dalam Serat Jaka Lodang, dan merupakan kalimat Suryasengkala yang jika ditafsirkan akan diperoleh angka 7-7-8-1. Pembacaan Suryasengkala adalah dibalik dari belakang ke depan, yaitu1877 Saka, yang bertepatan dengan 1945 Masehi, yaitu tahun kemerdekan Republik Indonesia.
Pengalaman pribadi Presiden Soekarno pada masa penjajahan adalah ketika berjumpa dengan para petani miskin yang tetap bersemangat di dalam penderitaan, karena mereka yakin pada kebenaran ramalan Ranggawarsita tentang datangnya kemerdekaan di kemudian hari.
Menyingkap Rahasia wudhu
Keistimewaan wudhu’ dalam tinjauan medis:
* Wudhu’ tidak hanya membersihkan organ-organ tubuh bagian luar beberapa waktu dalam sehari sebelum sholat. Pengaruh psikologi dan spiritual dirasakan lebih dalam oleh seorang muslim setelah wudhu’, terutama sekali ketika wudhu’ tersebut dilakukan secara sempurna. Wudhu’ juga berperan penting dalam kehidupan seorang muslim, karena dengan wudhu’ akan menjaga mereka selalu dalam keadaan suci, sebagaimana sabda Rasululloh SAW di atas (Shahih HR. Muslim, I:148 danlainnya).
* Proses pembersihan (membasuh) organ-organ yang biasanya tidak terlindung dari debu sudah pasti mempunyai arti yang besar bagi kesehatan secara umum. Bagian tubuh yang terpapar sepanjang hari, tidak terhindar dari sejumlah besar mikroba dalam hitungan jutaan per sentimeter kubik udara. Mikroba ini melakukan serangan terus menerus melawan tubuh manusia pada area kulit yang terpapar. Dengan wudhu’, mikrobadapat terangkat oleh usapan yang mengejutkan di permukaan kulit, terutama jika disertai pijatan yang sempurna dan menuang air secukupnya, seperti tuntunan Rasululloh SAW. Bila proses tersebutdiikuti dengan benar, maka tidak ada kotoran atau kuman yang tertinggal di tubuh kecuali apa yang telah Alloh tetapkan.
* Berkumur dengan mulut. Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa berkumur bisa melindungi mulut dan kerongkongan/tenggorokan dari inflamasi, dan juga gusi bernanah (pyorrhea). Selain itu juga dapat melindungi dan membersihkan gigi, yakni dapat mengeluarkan sisa makanan yang tertinggal di gigi.
* Menghirup air melalui hidung. Membasuh dan membersihkan hidung sangat membantu dalam menjaga agar lubang hidung bersih dan bebas dari inflamasi dan kuman, dengan demikian akan mencerminkan kondisi kesehatan tubuh yang baik secara keseluruhan.
* Membasuh wajah dan kedua tangan. Membasuh wajah dan keduatangan hingga siku mempunyai manfaat besar dalam mengangkat debu dan mikroba maupun keringat dari permukaan kulit. Selain itu juga membersihkan kulit dari substansi berlemak yang disekresikan kelenjar kulit, kondisi ini biasanya menjadi tempat yang sangat cocok untuk perkembangbiakan dan makanan kuman.
* Membasuh kedua kaki. Membasuh kaki dengan pijatan menimbulkan perasaan tenang dan puas yang meliputi seorang muslim setelah wudhu’.
* Rahasia-rahasia lain dari wudhu’. Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa sirkulasi darahpada lengan tangan bagian atas hingga lengan bagian bawah, dan pada lengan kaki bagian bawah hingga posisi kaki lebih rendah dibandingkan organ-organ lainnya, sekelililng badan hingga pusat regulasi darah, yakni jantung. Jadi, membasuh kedua lengan tersebut dengan pijatan setiap kali wudhu’ membantu memperkuat sirkulasi darah di bagian ini, dengan demikian menambah vitalitas dan aktivitas tubuh.
Ilmu pengetahuan juga telah membuktikan efek dari sinar matahari, terutama sinar UV yang bisa menyebabkan kanker kulit. Efekini dapat diturunkan sangat baik dengan berwudhu’, yakni terus menerus membasahi permukaan kulit dengan air, terutama sekali organ-organ yang terpapar sinar matahari. Ini membantu melindungi permukaan dan lapisan internal sel kulit dari pengaruh berbahaya sinar matahari.
Keistimewaan wudhu’ dalam tinjauan agama :
· Ahmad Dari Abu Hurairah Radliyallahu Anhu ia berkata telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :” maukah aku tunjukkan kepada kalian beberpa hal yang dengan itu Allah kan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kalian?”. “Mau ya Rasulallah”. Ujar mereka.Sabda beliau:”Yaitu menyempurnakan wudhu’ ketika dalam keadaan sulit(3), sering melangkah menuju ke mesjid dan menunggu sholat setelah selesai mengerjakan Sholat(4), yang demikian itu adalah perjuangan (ribath)(5), perjuangan, perjuangan”. (Shahih HR. Muslim, I:151 dan lainnya, Lihat Mukhtashar Muslim, no 133.)
Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu bahwasannya Rasulallah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda:”Apabila seorang hambamuslim berwudhu’, lalu ia mencuciwajahnya, maka akan keluar dari wajahnya setiap dosa yang ia pernah melihat(yang haram) dengan matanya bersama dengan air atau bersama dengan tetesan yang terakhir. Bila ia mencuci keduatangannya, keluar dari tangannya setiap dosa yang pernah dilakukan oleh tangannya bersamaan dengan air atau tetesan air yang treakhir. Dan bila ia mencuci kedua kakinya, akan keluar dosa-dosa yang dilakukan oleh kedua kakinya bersamaan dengan air atau barsamaan dengan tetesan air yangterakhir, hingga ia keluar dalam keadan bersih dari dosa” (Shahih HR. Muslim, I:148 dan lainnya).
Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam ketika datang ke pemakaman beliau mengucapkan “Assalamu’alaikum daar qaumi mu’minin. Wa Insya Allah bikum ‘an qariibin laa hiquun”(Kesejahteraan kepada kamu wahai penghuni perkampungan kaum mu’minin, dan insya Allah tidak lama lagi kami akan menyusul kamu). Alangkah inginnya hatiku ketika hendak melihat saudara- saudaraku!. Para shahabat berkata:” Bukankah kamiini saudara-saudara engkau ya Rasulullah?” Sabda beliau :” Kalian ini para shahabatku, adapun saudara-saudaraku adalah orang yang belum muncul”. Mereka bertanya:”Bagaimana engkau dapat mengetahui keadaan umat yang belum muncul itu ya Rasulullah?” Jawab beliau :” bagaimana pendapat kalian bila umpamanya seseorang mempunyai kuda berwarna putih cemerlang yang pada dahi dan kakinya yang berada ditengah-tengah kuda yang berwarna hitam pekat, tidakkah ia dapat mengenali kuda itu.?”. Dapatya Rasulullah”. Ujar mereka. Kata Beliau “Demikianlah halnya mereka itu, mereka datang dalam keadaan putih cemerlang bertanda dengan wudhu’ sedangkanaku menjadi perintis mereka menuju telaga. Ketahuilah sesungguhnya ada beberapa orang yang ditolak masuk telaga seperti onta sesat yang diusir, aku menyeru mereka: mari ke sini”. Lalu dikatakan:”Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang menyelewang sepeninggalmu, maka aku katakan (kalau begitu) celaka, celaka mereka” ( Shahih HR. Muslim,1:150).
Alloh SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan sholat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. jika kamu junub maka mandilah… (QS. Al-Maidah:6).
* Wudhu’ tidak hanya membersihkan organ-organ tubuh bagian luar beberapa waktu dalam sehari sebelum sholat. Pengaruh psikologi dan spiritual dirasakan lebih dalam oleh seorang muslim setelah wudhu’, terutama sekali ketika wudhu’ tersebut dilakukan secara sempurna. Wudhu’ juga berperan penting dalam kehidupan seorang muslim, karena dengan wudhu’ akan menjaga mereka selalu dalam keadaan suci, sebagaimana sabda Rasululloh SAW di atas (Shahih HR. Muslim, I:148 danlainnya).
* Proses pembersihan (membasuh) organ-organ yang biasanya tidak terlindung dari debu sudah pasti mempunyai arti yang besar bagi kesehatan secara umum. Bagian tubuh yang terpapar sepanjang hari, tidak terhindar dari sejumlah besar mikroba dalam hitungan jutaan per sentimeter kubik udara. Mikroba ini melakukan serangan terus menerus melawan tubuh manusia pada area kulit yang terpapar. Dengan wudhu’, mikrobadapat terangkat oleh usapan yang mengejutkan di permukaan kulit, terutama jika disertai pijatan yang sempurna dan menuang air secukupnya, seperti tuntunan Rasululloh SAW. Bila proses tersebutdiikuti dengan benar, maka tidak ada kotoran atau kuman yang tertinggal di tubuh kecuali apa yang telah Alloh tetapkan.
* Berkumur dengan mulut. Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa berkumur bisa melindungi mulut dan kerongkongan/tenggorokan dari inflamasi, dan juga gusi bernanah (pyorrhea). Selain itu juga dapat melindungi dan membersihkan gigi, yakni dapat mengeluarkan sisa makanan yang tertinggal di gigi.
* Menghirup air melalui hidung. Membasuh dan membersihkan hidung sangat membantu dalam menjaga agar lubang hidung bersih dan bebas dari inflamasi dan kuman, dengan demikian akan mencerminkan kondisi kesehatan tubuh yang baik secara keseluruhan.
* Membasuh wajah dan kedua tangan. Membasuh wajah dan keduatangan hingga siku mempunyai manfaat besar dalam mengangkat debu dan mikroba maupun keringat dari permukaan kulit. Selain itu juga membersihkan kulit dari substansi berlemak yang disekresikan kelenjar kulit, kondisi ini biasanya menjadi tempat yang sangat cocok untuk perkembangbiakan dan makanan kuman.
* Membasuh kedua kaki. Membasuh kaki dengan pijatan menimbulkan perasaan tenang dan puas yang meliputi seorang muslim setelah wudhu’.
* Rahasia-rahasia lain dari wudhu’. Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa sirkulasi darahpada lengan tangan bagian atas hingga lengan bagian bawah, dan pada lengan kaki bagian bawah hingga posisi kaki lebih rendah dibandingkan organ-organ lainnya, sekelililng badan hingga pusat regulasi darah, yakni jantung. Jadi, membasuh kedua lengan tersebut dengan pijatan setiap kali wudhu’ membantu memperkuat sirkulasi darah di bagian ini, dengan demikian menambah vitalitas dan aktivitas tubuh.
Ilmu pengetahuan juga telah membuktikan efek dari sinar matahari, terutama sinar UV yang bisa menyebabkan kanker kulit. Efekini dapat diturunkan sangat baik dengan berwudhu’, yakni terus menerus membasahi permukaan kulit dengan air, terutama sekali organ-organ yang terpapar sinar matahari. Ini membantu melindungi permukaan dan lapisan internal sel kulit dari pengaruh berbahaya sinar matahari.
Keistimewaan wudhu’ dalam tinjauan agama :
· Ahmad Dari Abu Hurairah Radliyallahu Anhu ia berkata telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :” maukah aku tunjukkan kepada kalian beberpa hal yang dengan itu Allah kan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kalian?”. “Mau ya Rasulallah”. Ujar mereka.Sabda beliau:”Yaitu menyempurnakan wudhu’ ketika dalam keadaan sulit(3), sering melangkah menuju ke mesjid dan menunggu sholat setelah selesai mengerjakan Sholat(4), yang demikian itu adalah perjuangan (ribath)(5), perjuangan, perjuangan”. (Shahih HR. Muslim, I:151 dan lainnya, Lihat Mukhtashar Muslim, no 133.)
Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu bahwasannya Rasulallah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda:”Apabila seorang hambamuslim berwudhu’, lalu ia mencuciwajahnya, maka akan keluar dari wajahnya setiap dosa yang ia pernah melihat(yang haram) dengan matanya bersama dengan air atau bersama dengan tetesan yang terakhir. Bila ia mencuci keduatangannya, keluar dari tangannya setiap dosa yang pernah dilakukan oleh tangannya bersamaan dengan air atau tetesan air yang treakhir. Dan bila ia mencuci kedua kakinya, akan keluar dosa-dosa yang dilakukan oleh kedua kakinya bersamaan dengan air atau barsamaan dengan tetesan air yangterakhir, hingga ia keluar dalam keadan bersih dari dosa” (Shahih HR. Muslim, I:148 dan lainnya).
Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam ketika datang ke pemakaman beliau mengucapkan “Assalamu’alaikum daar qaumi mu’minin. Wa Insya Allah bikum ‘an qariibin laa hiquun”(Kesejahteraan kepada kamu wahai penghuni perkampungan kaum mu’minin, dan insya Allah tidak lama lagi kami akan menyusul kamu). Alangkah inginnya hatiku ketika hendak melihat saudara- saudaraku!. Para shahabat berkata:” Bukankah kamiini saudara-saudara engkau ya Rasulullah?” Sabda beliau :” Kalian ini para shahabatku, adapun saudara-saudaraku adalah orang yang belum muncul”. Mereka bertanya:”Bagaimana engkau dapat mengetahui keadaan umat yang belum muncul itu ya Rasulullah?” Jawab beliau :” bagaimana pendapat kalian bila umpamanya seseorang mempunyai kuda berwarna putih cemerlang yang pada dahi dan kakinya yang berada ditengah-tengah kuda yang berwarna hitam pekat, tidakkah ia dapat mengenali kuda itu.?”. Dapatya Rasulullah”. Ujar mereka. Kata Beliau “Demikianlah halnya mereka itu, mereka datang dalam keadaan putih cemerlang bertanda dengan wudhu’ sedangkanaku menjadi perintis mereka menuju telaga. Ketahuilah sesungguhnya ada beberapa orang yang ditolak masuk telaga seperti onta sesat yang diusir, aku menyeru mereka: mari ke sini”. Lalu dikatakan:”Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang menyelewang sepeninggalmu, maka aku katakan (kalau begitu) celaka, celaka mereka” ( Shahih HR. Muslim,1:150).
Alloh SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan sholat maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. jika kamu junub maka mandilah… (QS. Al-Maidah:6).
Langganan:
Komentar (Atom)